Tampilkan postingan dengan label Pengolahan Pangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengolahan Pangan. Tampilkan semua postingan

Cara Untuk Menunda Kematangan Buah


Salah satu alternative yang diusulkan adalah penundaan kematangan buah dengan menggunakan absorban dalam plastic pengemas. Absorban menggunakan serbuk besi, arang aktif, dan KMnO4. Usulan ini didasarkan kemampuan serbuk besi untuk meyerap oksigen yang ada pada atmosfer penyimpanan sehingga respirasi buah yang dihambat dan akhirnya proses kematangan dapat ditunda.

Selain itu pendinginan dan kedap udara juga merupakan upaya untuk memperlambat laju reaksi produksi etilen dari buah. Namun teknik tersebut masih bersifat tradisional dan manual tanpa dapat mengimbangi dinamika laju etilen buah. Oleh karena itu, kadang masih menghasilkan buah yang busuk atau bahkan masih mentah ketika sampai ke konsumen.

KMnO4 atau kalium permanganate merupakan senyawa yang memiliki oksigen dan juga memiliki valuasi yang berfungsi sebagai pengikat unsure disampingnya dan merupakan salah satu fungsionalnya yang bisa berperan memecah masalah sesuatu contohnya pada pemecahan etilen. Yang berperan dimana dengan ikatan valuasinya bisa memutuskan ikatan tersebut sehingga menghasilkan perubahan. KMnO4 dapat digunakan untuk menghambat pematangan buah, karena bersifat oksidator kuat, karena daya oksidatornya kuat maka KMnO4 dapat mengoksidasi etilen. Seperti diketahui etilen adalah hormone yang merangsang atau mempercepat terjadinya pematangan buah. Etilen yang teroksidasi kehilangan kemampuan untuk mempercepat pematangan buah. KMnO4 dapat menghambat kematangan dengan cara megoksidasi ikatan rangkap etilen yang dihasilkan oleh buah dan merubahnya menjadi bentuk etilen glikol dan mangandioksida (MnO2), oleh karena itu buah menjadi terhambat proses kematangannya sehingga buah dapat disimpan lebih lama. KMnO4 yang bereaksi dengan etilen akan menghasilkan gas CO2 yang berlebih. 

Adanya konsentrasi CO2 yang berlebih pada penyimpanan dapat menghambat percepatan/kecepatan proses pematangan buah karean CO2 berkompetisi dengan etilen. KMnO4 dapat menghambat kerja etilen dan merupakan penyerap etilen yang berlebih serta efektif. Daya penghambat KMnO4 terhadap kerja etilen juga dipengaruhi oleh suhu. Semakin rendah suhunya, jika dikombinasikan dengan KMnO4 akan memberikan hasil efektif terhadap penghambatan buah yang akan matang karean pada suhu rendah enzim penggiat metabolisme juga tidak aktif (Suyatma, 2007). Reaksi KMnO4 dengan etilen sebagai berikut :
C2H4 + KMnO4 + H2O → C2H4(OH)2 + MnO2 + KOH
Secara umum walaupun konsentrasi etilen dapat menghambat namun produksi etilen dapat dihentikan seluruhnya. Hal ini desebabkan adanya etilen endigencus dari buah itu sendiri, sehingga dengan adanya penambahan penyerap etilen pun, produksi etilen akan tetap ada.

Penghambatan respirasi dapat dilakukan dengan menangkap oksigen yang ada dalam atmosfer penyimpanan oleh suatu senyawa penyerap oksigen (oksigen adsorbs). Serbuk gergaji mempunyai potensi sebagai senyawa penyerap oksigen yang ada dalam oksigen karena serbuk gergaji ini mudah teroksidasi. Serbuk gergaji sudah sering digunakan sebagai penyerap oksigen pada produk makanan kaleng, khususnya bahan makanan yang mengandung lemak. Serbuk gergaji ini akan bertindak sebagai prooksidan dan menangkap oksigen sehingga reaksi oksidasi lemak terhambat (Retno, 2001). Serbuk gergaji kayu mengandung unsure karbon yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan karbon. Sebagai bahan yang mengandung karbon dapat diproses untuk menghasilkan karbon aktif. Karbon aktif ini berasal dari dekomposisi termal lignin, selulosa, dan hemiselulosa yang telah mengalami proses aktivasi.

Definisi arang aktif  berdasarkan pada pola strukturnya adalah sesuatu bahan yang berupa karbon amorf yang sebagian besar terdiri dari karbon bebas serta memiliki permukaan dalam sehingga daya serap yang tinggi. Pada proses industry arang aktif digunakan sebagai bahan pembantu pada proses industry dalam meningkatkan kualitas atau mutu produk yang dihasilkan. Arang merupakan suatu padatan berpori yang mengandung 85-95 % karbon, dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon dengan pemanasan pada suhu tinggi. Arang selain digunakan sebagi bahan bakar, juga dapat digunakan sebagai absorban (penyerap). Daya serap ditentukan oleh luas permukaan partikel dan kemampuan ini dapat menjadi lebih tinggi jika terhadap arang tersebut dilakukan aktivasi dengan bahan-bahan kimia maupun dengan pemanasan pada temperature tinggi. Dengan demikian arang akan mengalami sifat- sifat kimia dan fisika

Manfaat Teh dapat Mencegah Gigi Berlubang

Pada pertengahan abad ke 19 kasus gigi berlubang merupakan masalah yang sangat populer, hal ini diakibatkan karena meningkatnya konsumsi gula di masyarakat. Kasus ini menjadi demikian populer di negara-negara yang merubah diet tradisional yang rendah gula menjadi diet barat yang kadar gulanya tinggi.

Manusia dan bakteri penghasil plak ternyata memiliki kesamaan yang khas, yakni menyukai gula. Meski bakteri-bakteri di mulut tumbuh subur pada semua jenis gula, namun mereka akan tumbuh dengan subur pada sukrosa atau yang dalam istilah keseharian lazim disebut sebagai gula putih atau gula pasir. Sekalipun keduanya sering berduet dalam seduhan, gula dan teh ternyata mempunyai efek yang berlawanan dalam mulut. Gula berpotensi merusak kesehatan, sedangkan teh mampu meningkatkan akreditas kesehatan gigi dan mulut.
Di China dan Jepang, minum teh setelah makan sudah membudaya. Kebiasaan ini diyakini mampu mempertahankan kesehatan gigi dan mulut. Manfaat dari metode tradisional ini ditegaskan kembali oleh penelitian modern yang menyatakan bahwa teh sangat bersahabat dengan gigi. Penelitian modern secara gemilang telah membuktikan bahwa teh mampu menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans dan bakteri lain yang berhubungan dengan plak. Para ahli gigi di China seperti dilaporkan dalam Chinese Journal of Stomatology baru-baru ini menerangkan bahwa pertumbuhan Streptococcus mutans dapat dihambat seluruhnya hanya dalam waktu 5 menit setelah pemberian katekin teh meski pada konsentrasi yang cukup rendah.

Tidak hanya di China, para peneliti dari Department of Clinical Pathology-Nihon University School of Dentistry di Jepang telah menguji kehandalan pencegahan gigi berlubang dari ekstrak teh. Mereka membiakkan Streptococcus mutans pada cawan yang dilapisi saliva yang diasumsikan sebagai gigi palsu. Hasil pengujian mereka menunjukkan bahwa katekin teh dapat mencegah bakteri yang akan menyerang gigi palsu dan mengganggu kinerja enzim yang digunakan bakteri untuk mencerna gula. Dari 5 jenis katekin yang diujikan, EGCG merupakan katekin yang paling kuat melawan penyebab gigi berlubang. Setelah sukses melakukan simulasi pada gigi palsu, para peneliti kemudian mencoba hasil riset tersebut pada tikus. Para ahli menginfeksikan Streptococcus mutans pada tikus dan memberi diet yang merangsang terjadinya gigi berlubang. Hasil riset mempertegas bahwa kasus gigi berlubang sangat kecil perkembangannya pada tikus yang diberi suplemen katekin. Untuk memuluskan akal busuknya, Streptococcus mutans mengeluarkan enzim. Enzim ini mempersilahkan bakteri untuk membentuk daerah plak yang lebih luas pada permukaan gigi, yang kemudian berperan dalam pembentukan gigi berlubang. Ekstrak katekin teh dapat mengurangi resiko gigi berlubang dengan menahan aktivitas enzim glukotransferase sebagai salah satu pencetus gigi berlubang. Ketika katekin ditambahkan pada air minum, sedikit sekali gigi berlubang dan plak yang dijumpai pada hewan coba.

Para peneliti dari Department of Oral Microbiology di Osaka University di Jepang mengatakan bahwa perkembangan gigi berlubang menjadi sangat sedikit karena katekin berhasil menahan aktivitas glukotransferase. Hasil riset ini memperjelas bagaimana mekanisme aktivitas penghambatan resiko gigi berlubang oleh katekin teh. Katekin teh juga piawai mengurangi resiko gigi berlubang dengan meningkatkan resistensi gigi melawan bakteri penyebab gigi berlubang. Para peneliti dari Department of Preventive Dentistry, Kyushu University di Jepang berkeyakinan bahwa teh yang digunakan bersama sumber fluoride lainnya dapat menghasilkan lapisan permukaan gigi yang lebih tahan terhadap asam yang dihasilkan bakteri dibandingkan permukaan gigi yang hanya diberi fluoride saja.

Proses Blancing untuk Pengolahan Pangan

Pada proses pengolahan bahan hasil pertanian seringkali dilakukan suatu proses pendahuluan yang umum dilakukan sebelum proses pembekuan, pengeringan, dan pengalengan. Proses pendahuluan ini biasanya dikenal dengan istilah blanching. Blanching biasanya dilakukan terhadap komoditas bahan hasil pertanian jenis sayuran dan buah-buahan.
            Blanching dilakukan dengan menggunakan proses thermal yaitu menggunakan panas. Ada beberapa cara yang digunakan untuk melakukan blanching, yaitu dengan menggunakan air panas, uap, microwave, dan individual quick blanching. Hal ini dilakukan karena panas dapat menghilangkan aktivitas biologi dan mikrobiologis yang tidak diinginkan pada bahan pangan sehingga akan dapat memperpanjang umur simpan dan dapat mempertahankan mutu bahan pangan. Blanching dapat berfungsi untuk menginaktifkan enzim yang berperan dalam proses kerusakan bahan pangan, dapat memperbaiki tekstur bahan, memperbaiki warna, mengurangi jumlah mikroorganisme dan dapat mempermudah proses pengolahan selanjutnya.
            Selain memiliki banyak kegunaan ternyata blanching juga memiliki beberapa kerugian yaitu dapat menimbulkan potensi kehilangan zat gizi yang peka panas atau larut air, dan dapat menghambat pengeringan bahan berpati tinggi. Untuk mengurangi kerugian dari pengaruh proses blanching, maka perlu dilakukan proses blanching yang tepat terhadap bahan hasil pertanian sehingga harus diperhatikan pemilihan metode blanching, jenis bahan yang diblanching, suhu yang digunakan saat proses blanching, maupun ukuran bahan yang akan diblanching.
            Oleh karena itu, perlu dilakukan kegiatan praktikum kali ini untuk mengetahui metode blanching yang tepat pada bahan hasil pertanian serta pengaruhnya terhadap sifat buah-buahan dan sayuran.

BAHAN DAN METODE BLANCING
Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah pisau, kompor, panci/dandang, kompor gas, botol timbang, neraca alalitik. Sedangakan bahan yang digunakan adalah sawi, kentang, air.
            Metode kerja yang dilakukan adalah pertama sawi dan kentang ditimbang beratnya sebagai berat awal. Kemudian dipotong dengan pisau dengan ukuran 4 cm x 4 cm (untuk sawi)dan 2cmx2cmx2cm (untuk kentang). Kemudian bahan-bahan tersebut diberi perlakuan hotwater yaitu dengan dicelupkan dalam air panas 70-80oCdengan variasi waktu O’ (control)2’, 4’, 6’, 8’. Dan steam blanching dengan cara bahan dimasukkan dalam dandang dengan suhu 70-80oC dan variasi waktu yang sama dengan hotwater. Tujuan dari variasi waktu tersebut adalah untuk mengetahui perbandingan dari berbagai waktu yang digunakan guna mengetahui pada waktu berapakah proses blanching berpengaruh pada bahan. Kemudian ditimbang kembali sebagai berat akhir dan dilakukan pengamatan tekstur, warna, berat, dan pengerutan. 
Ada beberapa metode blanching yang dapat digunakan, yaitu:
1.      Metode hot water blanching (blanching menggunakan air panas)
Pada metode ini, bahan mengalami kontak langsung dengan air panas. Hal ini menyebabkan bahan akan mengalami kehilangan komponen nutrisi yang larut air ataupun peka panas. Biasanya digunakan suhu 75-100oC. Tingkat kerusakan nutrisinya paling besar.
2.      Metode steam blanching (blanching menggunakan uap)
Metode ini menggunakan uap air jenuh pada tekanan atmosfer sekitar 150 kN/m2 atau pada tekanan lebih rendah. Caranya adalah bahan dialiri dengan uap. Kerusakan nutrisi lebih rendah karena tingkat kehilangan komponen nutrisi larut air akan menjadi lebih rendah.
Proses blanching dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
  1. Jenis bahan
Blanching pada bahan yang berkadar pati tinggi dapat menyebabkan terhambatanya proses pengeringan bahan tersebut karena suhu panas blanching menyebabkan terjadinya gelatinisasi pati sehingga kecepatan transfer panas dihambat.
  1. Ukuran bahan
Semakin kecil ukuran bahan, maka jarak rambat panas menuju bahan/penetrasi panas dari proses blanching akan berlangsung cepat sehingga kerusakan nutrisi bahan yang peka panas akan berlangsung dengan cepat pula
  1. Suhu blanching
Semakin tinggi suhu blanching yang digunakan, maka tingkat kerusakan senyawa nutrisi bahan yang peka panas akan semaki besar dan jumlah mikroorganisme yang dapat dihambat juga lebih banyak.
  1. Metode blanching
Pemilihan metode blanching dapat dilakukan sesuai jenis bahan. Jika bahan yang akan diblanching enghendaki kontak seminimum mungkin dengan air, amka dapat dipilih metode steam blanching atau dengan microwave sehingga tingkat kehilangan senyawa yang larut air bisa diturunkan

Proses Pembuatan Nata de Coco

Nata de coco merupakan produk hasil proses fermentasi air kelapa dengan bantuan aktivitas Acetobacter xylinum. Nata berasal dari bahasa spanyol yang artinya terapung. Ini sesuai dengan sifatnya yaitu sejak diamati dari proses awal terbentuknya nata merupakan suatu lapisan tipis yang terapung pada permukaan yang semakin lama akan semakin tebal.
Semula industri nata de coco dimulai dari adanya industri rumah tangga yang menggunakan sari buah nenas sebagai bahan bakunya. Produk ini dikenal dengan nama nata de pina. Dikarenekan nenas sifatnya musiman, pilihan itu jatuh kepada buah kelapa yang berbuah sepanjang tahun dan dalam jumlah yang cukup besar serta ditemukan secara merata hamper diseluruh pelosok tanah air. Di skala industri, nata de coco sudah dikenal sejak diperkenalkannya pada tahun 1975. tetapi, sampai saat ini, industri nata de coco masih tergolong sedikit (di Indonesia). Padahal jika melihat prospeknya dimasa mendatang cukup enggiurkan. Akhir-akhir ini, Negara berkembang sedang melirik industri nata de coco.

Keunggulan Usaha Pembuatan Nata de Coco
Ada beberapa kelebihan atau daya tarik dari nata de coco yang menjadikannya sebagai sebuah industri yang cukup menjanjikan, diantaranya :
Pertama, nata de coco dikenal sebagai produk kaya serat. Kebutuhan masyarakat akan serat memang sesuatu hal mutlak, terutama masyarakat menengah keatas. Sejalan dengan berkembangnya era globalisasi masyarakat mendatang mulai melirik masalah kesehatan. Kesehatan bahkan dijadikan kebutuhan utama dibandingkan dengan kebutuhan lainnya. Dan nata de coco sangat baik untuk kesehatan karena serat yang dikandungnya. Akhir-akhir ini, banyak masyarakat yang rela menghabiskan uangnya guna mengkonsumsi tambahan serat dalam bentuk suplemen. Nata de coco adalah produk alami. Kecendrungan asyarakat adalah lebih tertarik kepada produk alami dibandingkan produk sintetis.
Kedua, nata de coco kaya akan gizi. Satu hal yang merupakan ciri masyarakat masa depan adalah kecendrungannya mengkonsumsi makanan yang bergizi merupakan suatu kebutuhan. Dan lagi-lagi nata de coco menjawab harapan masyarakat, nata de coco kaya akan gizi. Didalam nata de coco sendiri terkandung protein, lemak, gula, vitamin, asam amino, dan hormn pertumbuhan.
Ketiga, nata de coco mempunyai rasa yang lumayan enak. Disamping kaya akan gizi, nata de coco juga enak dikonsumsi. Jika dicampur dengan es teler, es krim atau fruit cocktail menjadikannya makanan yang mengundang selera.
Keempat, bahan pembuatan nata de coco mudah diperoleh dan tidak bersifat musiman. Nata de coco terbuat dari air kelapa. Dan kelapa sudah banyak dan hampir tersebar merata diseluruh pelosok tanah air. Kelapa juga berbuah sepanjang tahun dan tidak bersifat musiman.
Kelima, proses pengolahan dan peralatan industri nata de coco sederhana dan tidak memakan waktu yang lama. Pembuatan nata de coco tergolong cukup sederhana. Inductri rumah taggapun mampu memproduksinya. Waktu pembuatannya juga tergolong singkat, sekitar satu mingu sudah dapat dikonsumsi.
Keenam, industri nata de coco, merupakan industri yang ramah lingkungan.
Ketujuh, industri nata de coco belum begitu pesat perkembangannya. Peluang ini jika dimanfaatkan dan dikelola dengan baik, bukan mustahil akan mendatangkan keuntungan yang besar.
Demikianlah beberapa kelebihan yang dimiliki nata de coco sebagai industri masa depan yang cukup menggiurkan.

Proses Pembuatan Nata de Coco :
Tahap pertama yang dilakukan pada proses pembuatan Nata de Coco adalah penyaringan air kelapa untuk membersihkannya dari kotoran-kotorang yang tidak diinginkan. Kemudian dilakukan pemanasan sampai mendidih, yang bertujuan untuk membunuh mikroorganisme yang mungkin akan mencemari produk yang akan dihasilkan. Dalam pemanasan ini ditambahkan 7,5% gula dari volume air kelapa (75 g gula untuk 1 liter kelapa). Pendinginan dilakukan pada suhu kamar. Setelah dingin, ditempatkan dalam wadah steril, tingkat keasamannya diatur dengan menambahkan asam cuka sampai pH 4-5. Kemudian dilakukan penambahan bakteri starter dan diinkubasi (diperam) selama 2 minggu. Pada pemeraman ini, wadah ditutup rapat dengan plastik. Suhu pemeraman terbaik adalah 30oC. Air kelapa akan menggumpal, menghasilkan nata de coco yang telah siap untuk dipanen. Selanjutnya dipotong kecil-kecil berbentuk kubus. Potongan-potongan nata de coco ditiriskan, kemudian direndam dalam air bersih selama 2-3 hari, untuk menghilangkan asmnya. Setiap hari, air perendam diganti dengan yang baru. Bila pada hari ketiga nata de coco masih terasa asam, maka perlu dilakukan pemasakan/dididihkan kembali selama 10 menit dan segera tiriskan. Untuk memaniskan nata de coco dan memperpanjang umur simpannya, maka potongan-potongan nata harus direndam dalam larutan gula yang dibuat dengan cara melarutkan 600 g gula ke dalam 1,5 liter air, kemudian dipanaskan sampai semua gulanya melarut. Kedalam larutan gula ini, dapat juga ditambahkan natrium benzoat sebanyak 100 mg untuk setiap kilogram nata yang terbentuk. Nata dapat direndam selama 1 malam supaya gula dan bahan pengawet meresap kedalamnya. Untuk mendapatkan aroma yang lebih memikat dapat juga ditambahkan dengan esens secukupnya ke dalam larutan gula. Nata kemudian dimasukkan ke dalam botol-botol jar atau bungkus dengan plastik, perbandingan antara nata de coco dan cairan adalah 3 : 1.

Manfaat dan Khasiat Tempe

Tempe, makanan yang sering dijumpai di rumah maupun di warung-warung, sebagai pelengkap hidangan ternyata memiliki kandungan dan nilai cerna yang lebih baik dibandingkan dengan kedelai. Oleh karena itu, tempe sangat baik untuk diberikan kepada segala kelompok umur (dari bayi hingga lansia), sehingga bisa disebut sebagai makanan semua umur.
Selain itu, pada tempe juga terjadi peningkatan nilai gizi seperti kadar vitamin B2, vitamin B12, niasin, dan asam pantorenat. Bahkan hasil analisis, gizi tempe menunjukkan kandungan niasin sebesar 1.13 mg/100 gram berat tempe yang dapat dimakan. Kandungan ini meningkat kurang lebih 2 kali lipat setelah kedelai difermentasi menjadi tempe. Karena kadar niasin pada kedelai hanya berkisar 0,58 mg, tempe dapat dikonsumsi dalam tiga bentuk utama.

Tempe umumnya dikonsumsi dalam bentuk keripik, bacem, atau dimasak bersama campuran sayur. Kedua berbentuk tepung. Ini dapat dimanfaatkan sebagai kandungan pangan yang berguna untuk meningkatkan kadar gizi dan serat, sebagai pengawet alami dan untuk menanggulangi diare pada anak-anak. Ketiga, tempe juga dapat diolah sebagai konsentrat protein, isolat protein, peptida, serta komponen bioaktif lainnya.
Manfaat Tempe
Mencegah Anemia dan Osteoporosis
Tempe juga dipercaya dapat mencegah anemia dan osteoporosis, dua penyakit yang bayak diderita wanita, sebab kodrat wanita yang harus mengalami haid, hamil serta menyusui bayi. Penyakit anemia ini dapat menyerang wanita yang malas makan, karena takut gemuk, sehingga persediaan dan produksi sel-sel darah merah dalam tubuh menurun. Tempe dapat berperan sebagai pemasok mineral, vitamin B12 (yang terdapat pada pangan hewani), dan zat besi yang sangat dibutuhkan dalam pembentukan sel darah merah. Selain itu, tempe juga dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Senyawa protein, asam lemak PUFA, serat, niasin, dan kalsium di dalam tempe dapat mengurangi jumlah kolesterol jahat.

Mencegah Penuaan Dini dan Kanker Payudara
Di dalam tempe juga ditemukan suatu zat antioksidan dalam bentuk isofalvon. Seperti halnya vitamin C, E dan karotenoid, isoflavon merupakan antioksidan yang sangat dibutuhkan tubuh untuk menghentikan reaksi pembentukan radikan bebas. Dalam kedelai terdapat tiga jenis isoflavon, yaitu daidzein, glisitein, dan genistein. Pada tempe, di samping ketiga jenis isoflavon tersebut juga terdapat antioksidan faktor II (6,7,4 trihidroksi isoflavon) yang mempunyai sifat antioksidan paling kuat dibandingkan dengan isoflavon dalam kedelai.

Antioksidan ini disintesis pada saat terjadinya proses fermentasi kedelai menjadi tempe oleh bakteri Micrococcus leteus dan Coreyne bacterium. Penelitian yang dilakukan di Universitas North Carolina, Amerika Serikat, menemukan bahwa genestein dan phytoestrogen yang terdapat pada tempe ternyata dapat mencegah kanker prostat, payudara dan penuaan (aging).

Karenanya, cara terbaik untuk mengoptimalkan khasiat tempe bagi tubuh kita adalah dengan mengonsumsinya setiap hari dalam jumlah yang cukup berarti. Agar tak mengalami kebosanan, variasi penggunaan tempe dalam berbagai resep masakan perlu dilakukan.

Supaya khasiat zat-zat bermanfaat itu tak banyak terbuang dalam proses pemasakan, tempe sebaiknya dimasak dengan menu seperti sup, semur, atau bacem. Cara-cara itu lebih sedikit mengurangi khasiat tempe, ketimbang digoreng. Ternyata besar manfat tempe untuk tubuh kita. Jadi, jangan ragu untuk mengkonsumsi tempe ya!

Berikut ini adalah 10 Khasiat Tempe:
  • Protein yang terdapat dalam tempe sangat tinggi, mudah dicerna sehingga baik untuk mengatasi diare.
  • Mengandung zat besi, flafoid yang bersifat antioksidan sehingga menurunkan tekanan darah.
  • Mengandung superoksida desmutase yang dapat mengendalikan radikal bebas, baik bagi penderita jantung.Penanggulangan anemia. Anemi ditandai dengan rendahnya kadar hemoglobin karena kurang tersedianya zat besi (Fe), tembaga (Cu), Seng (Zn), protein, asam folat dan vitamin B12, di mana unsur-unsur tersebut terkandung dalam tempe.
  • Anti infeksi. Hasil survey menunjukkan bahwa tempe mengandung senyawa anti bakteri yang diproduksi oleh karang tempe (R. Oligosporus) merupakan antibiotika yang bermanfaat meminimalkan kejadian infeksi.Daya hipokolesterol. Kandungan asam lemak jenuh ganda pada tempe bersifat dapat menurunkan kadar kolesterol.
  • Memiliki sifat anti oksidan, menolak kanker.Mencegah masalah gizi ganda (akibat kekurangan dan kelebihan gizi) beserta berbagai penyakit yang menyertainya, baik infeksi maupun degeneratif.
  • Mencegah timbulnya hipertensi.Kandungan kalsiumnya yang tinggi, tempe dapat mencegah osteoporosis.

Budidaya Tembakau : Proses Pengolahan Tembakau

Tembakau merupakan salah satu tanaman yang menjadi tumpuan hidup petani di Indonesia, masyarakat indonesia termasuk beberapa daerah di pulau jawa banyak yang menggantungkan hidup mereka pada tanamaan. Pengetahuan tentang budidaya dan pengolahan yang kurang seringkali menjadi kendala dan mengakibatkan petani rugi atau memperoleh keuntungan yang tidak maksimal. Berikut ini kita akan membahas salah satu proses pada pengolahan tembakau yaitu Curing.
Curing merupakan proses biologis yaitu melepaskan kadar air dari daun tembakau basah yang dipanen dalam keadaan hidup. Selama ini di beberapa petani ada yang berpendapat bahwa curing adalah proses pengeringan tembakau saja. Tidak menyadari bahwa sel-sel di dalam daun tersebut masih tetap hidup setelah dipanen.

Tujuan Curing Tembakau :
  • Melepaskan air daun tembakau hidup dari kadar air 80 -90 % menjadi 10 -15 %. 
  • Perubahan warna dari Zat hijau daun menjadi WarDa orange dengan aroma sesuai dengan standar tembakau yang diproses.
Ciri-ciri daun Tembakau Siap Panen adalah : 
  • Wama daun sudah mulai hijau kekuningan dengan sebagian ujung dan tepi daun berwama coklat.
  • Wama tangkai daun hijau kuning, keputih-putihan.
  • Posisi daun/tulang daun mendatar 
  • Kadang-kadang pada lembaran daun ada bintik-bintik coklat, sebagai lambang ketuaan.
Tips Pengolahan Tembakau (Curing Tembakau) :
Pada saat curing, yang perlu diperhatikan juga adalah kapasitas daun di dalam oven. Sebagai contoh untuk oven ukuran 4 x 4 x 7 rak sebanding dengan 1,8 ha, sedangkan 5 x 5 x 7 rak maksimum 2,8 ha. Juga cuaca waktu proses, kalau musim hujan harus lebih longgar daripada waktu musim kering.

Proses Pengolahan Kopi

Pembuatan kopi bubuk banyak dilakukan oleh petani, pedagang pengecer, industri  kecil dan pabrik.  Pembuatan kopi bubuk oleh petani biasanya hanya dilakukan secara tradisional dengan alat-alat sederhana.  Hasilnya pun  biasanya  hanya dikomsumsi sendiri atau dijual bila ada pesanan.  Pembuatan kopi bubuk oleh pedagang pengecer dan industri kecil sudah agak meningkat, dengan mesin-mesin yang cukup baik, tetapi masih dalam jumlah yang terbatas.  Hasilnya biasanya hanya dipasarkan sendiri atau dipasarkan kepada pedagang-pedagang pengecer lainnya yang lebih kecil.

Pembuatan kopi bubuk oleh pabrik biasanya dilakukan secara modern dengan skala yang cukup besar.  Hasilnya dipak dalam bungkus yang rapi dengan menggunakan kertas alumunium foil, agar terjamin kualitasnya, serta dipasarkan ke berbagai daerah yang lebih luas.
Pembuatan kopi bubuk bisa dibagi ke dalam dua tahap, yaitu tahap perendangan dan tahap penggilingan.

a. Perendangan Kopi (Penyangraian Kopi)
Perendangan atau sering disebut penyangraian kopi adalah proses pemanasan kopi beras pada suhu 200o – 225o C yang bertujuan untuk mendapatkan kopi rendang yang berwarna coklat kehitaman.  Dalam proses perendangan ini biji kopi akan mengalami dua tahap proses penting, yaitu penguapan air pada suhu 100o C dan pirolisis pada suhu 180o – 225o C.  Pada tahap pirolisis, kopi mengalami perubahan-perubahan kimia antara lain penggarangan serat kasar,  terbentuknya senyawa volatil, pengguapan zat-zat asam, dan terbentuknya zat beraroma khas kopi.

Pada proses perendangan, kopi juga akan mengalami perubahan-perubahan warna yaitu berturut-turut dari hijau atau coklat muda menjadi coklat kayu manis, kemudian menjadi hitam dengan permukaan berminyak.  Bila kopi sudah berwarna kehitaman dan mudah pecah (retak) maka penyangraian segera dihentikan, kopi segera diangkat dan didinginkan.

Perendangan bisa dilakukan secara terbuka atau tertutup. Perendangan secara tertutup banyak dilakukan oleh pabrik atau industri-industri pembuatan kopi bubuk untuk mempercepat proses perendangan.  Perendangan secara tertutup akan menyebabkan kopi bubuk yang dihasilkan mempunyai rasa agak asam akibat tertahannya air dan beberapa jenis asam yang mudah menguap, tetapi aromanya akan lebih tajam karena senyawa kimia yang mempunyai aroma khas kopi tidak banyak yang menguap.  Selain itu kopi akan terhindar dari pencemaran bau yang berasal dari luar seperti bau bahan bakar atau bau gas hasil pembakaran yang tidak sempurna.

Perendangan kopi secara tradisional yang umumnya oleh petani dilakukan secara terbuka dengan menggunakan wajan terbuat dari tanah (kuali).  Bila alat ini tidak ada bisa pula dilakukan dalam wajan yang terbuat dari besi//baja.  Wajan dipanasi hingga cukup panas, kemudian kopi dimasukkan.  Kopi harus selalu diaduk agar panas merata dan hasilnya seragam.  Bila warna kopi sudah coklat kelam (kehitam-hitaman) dan mudah pecah, kopi segera diangkat dan didinginkan di tempat yang terbuka.  Untuk mengetahui apakah kopi mudah pecah atau belum biasanya kopi dipencet dengan jari atau digigit atau dipukul pelan-pelan dengan menggunakan batu (muntu).

Perendangan kopi oleh pedagang atau pabrik biasanya dilakukan secara tertutup dengan menggunakan mesin-mesin yang harganya cukup mahal seperti batch roaster, sehingga sering tidak terjangkau oleh industri kecil yang modalnya terbatas.  Kini, BPP Bogor telah berhasil merancang mesin penyangrai sederhana dengan kapasitas + 15 kg kopi beras yang harganya cukup murah.  Mesin ini mempunyai prinsip hampir sama dengan mesin yang digunakan oleh pabrik sehingga bisa menghasilkan kopi bubuk yang tidak kalah mutunya.
Bagian terpenting dari alat penyangrai adalah silinder, pemanas, dan alat penggerak atau pemutar silinder.  Cara menggunakannya, pertama-tama silinder dipanaskan hingga suhu tertentu dan diputar dengan kecepatan tertentu tergantung dari tipe alatnya.  

Pada alat rancangan BPP Bogor silinder dipanaskan hingga suhu + 340o C dengan putaran 20 putaran/menit. Setelah silinder dipanaskan pada suhu dan putaran tertentu, kemudian kopi dimasukkan ke dalam silinder.  Sementara itu pemanasan dan pemutaran silinder tetap berlangsung.  Bila kopi sudah mencapai tahap roasting point (kopi masak sangrai) pemanasan segera dihentikan dan kopi segera diangkat dan didinginkan.  Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tahap roasting point tergantung pada jumlah kopi yang disangrai dan jenis alat penyangrai yang digunakan.  Pada alat yang dirancang oleh BPP Bogor, untuk menyangrai 15 kg kopi diperlukan waktu + 1 jam, untuk 3 kg kopi diperlukan waktu hanya 15 menit.

b.  Penggilingan Kopi (Penumbukan kopi)
Penggilingan kopi adalah proses pemecahan (penggilingan) butir-butir biji kopi yang telah direndang untuk mendapatkan kopi bubuk yang berukuran maksimum 75 mesh.  Ukuran butir-butir (partikel-partikel) bubuk kopi akan berpengaruh terhadap rasa dan aroma kopi.  Secara umum, semakin kecil ukurannya akan semakin baik rasa dan aromanya, karena sebagian besar bahan-bahan yang terdapat di dalam kopi bisa larut dalam air ketika diseduh.  Namun ada sementara orang yang lebih suka bubuk kopi yang tidak terlalu lembut.
Penggilingan tradisional oleh para petani dilakukan dengan cara menumbuk kopi dengan alat penumbuk yang disebut lumpang dan alu.  Lumpang terbuat dari kayu atau batu sedangkan alu terbuat dari kayu.  Setelah ditumbuk sampai halus, bubuk kopi lalu disaring dengan ayakan paling besar 75 mesh.  Bubuk kopi yang tidak lolos ayakan dikumpulkan dan ditumbuk lagi.

Penggilingan oleh industri kecil atau oleh pabrik dilakukan dengan menggunakan mesin giling.  Mesin ini biasanya sudah dilengkapi alat pengatur ukuran partikel kopi sehingga secara otomatis bubuk kopi yang keluar sudah mempunyai ukuran seperti yang diinginkan dan tidak perlu disaring lagi.

Kopi yang sudah direndang dan digiling mudah sekali mengalami perubahan-perubahan, misalnya perubahan aroma, kadar air, dan ketengikan.  Kopi bubuk yang disimpan di tempat yang terbuka akan kehilangan aroma dan berbau tengik setelah 2-3 minggu.  Kehilangan aroma ini disebabkan karena menguapnya zat caffeol yang beraroma khas kopi, sedangkan ketengikan disebabkan karena adanya reaksi antara lemak yang terdapat dalam kopi dengan oksigen yang terdapat dalam udara.

Untuk menghindari penurunan mutu kopi yang telah direndang selama penyimpanan, sebaiknya kopi disimpan sebelum digiling.  Karena kopi rendang yang belum digiling mempunyai daya simpan 2-3 kali kopi yang telah digiling.  Kopi yang sudah digiling sebaiknya segera disimpan dan dipak dengan lapisan yang kedap udara (misalnya plastik atau alumunium foil).  Di pabrik yang cukup modern kopi bubuk biasanya dipak dalam kemasan atau kaleng yang hampa udara sehingga kopi dapat disimpan lebih lama.